Jumat, 10 Juli 2009

Who's Beauty????



BEAUTY atau indah merupakan suatu sifat yang sulit terdefinisi dengan baik. Artinya tanyakan pada diri anda sendiri apakah arti indah itu? Indah.. ya indah… enak dilihat. dengan jawaban demikian, ada banyak sanggahan yang akan mendarat kepada anda. Enak dilihat oleh siapa, dari sudut pandang apa, pada kondisi apa, dan lain nya yang dapat melemahkan argumenasi anda. Oleh karena itu variabel keindahan pada arsitektural penting untuk dijabarkan. Dengan demikian ketika seseorang ingin membuat sesuatu yang indah dia harus memenuhi variabel A,B,C,D,E….. Tapi bukankah ke-indah-an tersebut merupakan suatu rasa yang mudah dipengaruhi dan sulit dijelaskan.

Saya sendiri membagi definisi indah ke dalam dua pendapat, pertama deinisi berdasarkan pendapat pribadi, kedua definisi berdasarkan pendapat umum.

Definisi berdasarkan pendapat pribadi bersifat bebas karena dikembalikan lagi kepada pengalaman, pengetahauan,latar belakang, kondisi, dan rasa yang dimiliki oleh seseorang. Jadi sesuatu benda bisa saja dikatakan indah sekali oleh manusia A, setengah indah oleh manusia B, atau tidak indah oleh manusia C. bahkan manusia pun bisa mengangkat pendapatnya diantara sangat indah-setengah indah, misalnya cukup indah oleh manusia pra B. Tentunya akan ada argumentasi dibelakang semua pendapat itu apakah sadar atau tidak sadar. Argumentasi yang secara sadar dikemukakan karena pengalaman, latar belakang, atau pengetahuan seseorang terhadap benda tersebut. Sehingga dia bisa membandingkan dengan baik benda tersebut, karena pada dasarnya argumentasi sadar ini dipengaruhi oleh logika. Sementara argumentasi tak sadar lebih dipengaruhi oleh kondisi kesehatan atau emosi si manusia itu sendiri. Sehingga variabel situasi, kondisi, mood (perasaan) yang saat itu terjadi sangat mempengaruhinya.

Definisi indah menurut pendapat umum merujuk pada definisi yang tidak lebih luas dari definisi pribadi. Hal ini dikarenakan adanya suatu kesepakatan atau keterpaksaan. Karena pada kenyataannya definisi indah seperti dimonopoli oleh segelintir orang atau kelompok yang punya kuasa lebih atau dipercaya pnya kuasa tersebut. Misalkan saja pada abad ke 19, modern style dianggap sebagai parameter keindahan banguna pada masa tersebut. Dimana modern style ini dicetuskan oleh beberapa arsitek yang diyakini sebagai “star” , atau berkeahlian (capable) di masa itu. Sehingga paradigma bangunan indah yang diyakini adalah yang berbentuk kotak, tanpa ornament, beratap datar, berjendela besar, dan sebagainya. Sehingga muncullah istilah spirit of the age pada dunia arsitektur.

Jadi, apakah definisi indah tersebut?



Posting: Sukma hadi,ST

Classical Architecture

Style Vitruvius pada arsitektur yang lebih condong ke Arsitektur Klasik merupakan arsitektur yang sangat terpaku pada order, proporsi, dan simetri pada setiap aspek bangunannya. Seperti yang dikatakannya dalam buku Ten Books of Architecture bahwa arsitektur bergantung pada order, pengaturan (arrangement),eurythmy, simetri,propierty,dan ekonomi. Dan kemudian keenam aspek ini yang mengatur setiap aspek-aspek pada design arsitektur klasik tersebut. Seperti peletakan bangunan yang cocok yang sesuai dengan penerangan Jupiter, bulan, atau kecocokan proporsi antara lebar dan panjang pada setiap bagian bangunan. Bahkan Vitruvius juga menjelaskan banhwa proporsi yang tepat pada bangunan bisa mengacu pada proporsi tubuh manusia dimana ada kepala,badan, dan, kaki.

“Thus in the human body there is a kind of symmetrical harmony between forearm, foot, palm, finger, and other small parts; and so it is with perfect buildings.” (Ten Books of Architecture)
Dijelaskan bahwa dengan proporsi yang sempurna seperti pada tubuh manusia maka bangunan itu akan menjadi bangunan yang sempurna. Namun yang ingin saya pertanyakan adalah apa bangunan itu bisa selalu dikatakan sempurna ketika bangunan itu selalu terpaku pada aturan-aturan yang sudah ditetapkan pada arsitektur klasik. Apakah bangunan yang terbagi dengan tepat antara kepala, badan, dan kaki bisa dijadikan acuan sebagai arsitektur yang baik?
klasik-edit

Mungkin sebenarnya apabila dilihat dari perspektif lain, aturan-aturan ini malah seperti mengikat kita untuk membuat sesuatu yang sama secara terus-menerus. Sehingga geometri dari arsitektur ini pun menjadi sangat kaku. Dan ini mungkin yang mambuat arsitektur klasik sangat khas dalam fasad maupun denahnya. Keterikatan akan aturan-aturan arsitektur klasik ini juga sempat dikatakan dalam sebuah buku S,M,L,XL, dimana ketika diadakan rekonstruksi kembali kota Rotterdam muncul pendapat-pendapat bahwa mereka menginginkan kota baru yang tidaklah ideal, dimana harus terikat denganrules,propositions sehingga membuat kota itu malah terasa sangat steril bagi mereka.
“ Orthogonality become suspect. “What about 60 degrees, or 120 degrees?”..It can dance on angle..The new centre was “not really a city”..How about freedom of rules,propositions,purpose..”(S,M,L,XL.Rem Koolhas)

Arsitektur klasik yang dominan sangat orthogonal menjadi dianggap kaku, dan tidak diinginkan. Karena kakuan dari aturan-aturan itu membuat kota tersebut menjadi tidak familiar bagi masyarakatnya sendiri. Lalu muncul pertanyaan lain, apakah adanya ketidakcocokan ini berkaitan dengan waktu. Dimana mungkin arsitektur klasik itu sangat cocok di waktunya dulu namun tidak lagi cocok di waktu yang sekarang? Pengembangan arsitektur klasik pada zaman-zaman setelahnya juga sempat dilakukan dimana memunculkan style yang baru yaitu style neo-classical. Namun pengembangan ini juga tidak mengubah sebagian besar aturan-aturan pada arsitektur klasik. Contohnya yaitu pada Gereja Immanuel yang dibangun pada tahun 1832.

gereja-gambir

Penggunaan proporsi kepala,badan,dan kaki seperti pada arsitektur klasik itu tetap ada, namun muncul pengembangan seperti digunakannya dome(kubah) pada bagian belakang bangunan. Namun pengembangan ini tidak berarti terlalu besar karena penampakan bangunan yang tetap menyerupai dengan arsitektur klasik pada masa-masa sebelumnya. Aturan-aturan yang terus diikuti ini membuat arsitektur neo-classic juga memiliki bentuk-bentuk geometri yang kaku sama seperti arsitektur klasik. Lalu apakah arsitektur yang seperti ini yang disebut sebagai arsitektur yang baik? Apakah perkembangan bentuk-bentuk geometri yang lebih beragam dan telah berkembang saat ini tidak bisa dikatakan sebagai arsitektur yang baik juga?



Posting: Sukma hadi,ST

Adanya Classical Order (arsitektur)


Classical order adalah aturan-aturan seni yang muncul yang diciptakan oleh beberapa orang tertentu pada masa Romawi dan Yunani kuno. Gaya-gaya seni kuno ini khususnya terdapat pada desain bangunan, dibedakan oleh proporsi, profil, detail dan karakteristiknya. Cara paling cepat mengenalinya yaitu dengan melihat tipe kolom bagian utamanya, dimana setiap gaya memiliki entablature-nya masing-masing.

Munculnya classical order ini bukan tanpa sebab. Seperti yang dikatakan oleh D’Arcy Thompson yang mengemukakan bahwa terbentuknya sebuah bentuk (form) merupakan resultan dari kehadiran banyak force yang berada di dalam atau di sekitarnya. Banyak dorongan yang menyebabkan munculnya suatu bentuk. Pada buku berjudul Classical Architecture Oleh Alexander Tzonis, Liane Lefaivre dikatakan bahwa pada masa itu klasik sangat berhubungan aturan sosial dan perkembangan politik [buku berjudul Classical architecture Oleh Alexander Tzonis, Liane Lefaivre]. Aturan sosial pada masa itu yaitu adanya kelas-kelas sosial dalam masyarakatnya. Dalam suatu seminar, Prof Ir. Gunawan Tjahjono, pakar di bidang sejarah arsitektur, pernah mengatakan :“Klasik berasal dari kata bahasa latin CIassicus artinya kelas satu untuk warga (negara) kelas satu. Warga negara terpilih ini yang kemudian menentukan cita rasa baku sekaligus yang dianggap sebagai yang terbaik atau kelas satu pada jaman itu. Termasuk dalam penampilan bangunan. Maka kemudian kata klasik digunakan untuk menunjukkan sebuah karya unggul. Kelas-kelas unggul ini berasal dari Romawi kuno yang memang membagi masyarakatnya ke dalam beberapa tingkatan / kelas. Itu sebabnya setiap hasil karya bangunan dilakukan dengan sangat serius dan begitu indah. Aturan dan proporsinya bertujuan mencapai kesempurnaan.”

Warga negara kelas satu yang dibicarakan adalah merupakan warga yang memiliki kekayaan dan harga diri tinggi. Mereka yang memiliki prestise tinggi ini tentu memiliki selera yang tinggi pula. Mereka tentu menginginkan sesuatu yang mewah dan megah di sekitar mereka. Sesuatu yang mewah dan megah ini tentunya tidak didapat dengan mudah. Oleh karena itu bangunan-bangunan yang dibangun pada masa itu dirancang sedemikian megahnya. Seperti yang dikatakan oleh Prof. Gunawan, “aturan dan proporsinya bertujuan mencapai kesempurnaan”.

Jadi salah satu force atau dorongan yang mempengaruhi munculnya Classical Order yaitu keadaan warga pada saat itu yang tergolong ke dalam kelas-kelas tertentu, kemudian warga dari kelas tinggi itulah yang menginginkan kesempurnaan, dalam arti kemegahan dan kemewahan, maka dari itu muncullah bentuk-bentuk Classical Order.
p
Salah satu classical order yaitu Doric Order. Doric order merupakan order yang paling sederhana dari order lainnya, bisa dilihat pada bangunan Parthenon yang dibangun pada masa Yunani kuno. Parthenon dikatakan sebagai ‘kesempurnaan terbesar dari karya kuil Doric yang pernah dibangun’, sebuah penampilan dengan proporsi sempurna yang dihsilkan ole ahli maya-loka Athena. Perbandingan antara tinggi dan ketebalannya adalah 8 : 1, yang memberikan kesan megah dan besar.


Posting: Sukma hadi,ST

Beauty in Deconstructivist Architecture




“We don’t want architecture to exclude everything that is disquieting. We want architecture to have more… Architecture should be cavernous, fiery, smooth, hard, angular, brutal, round, delicate, colorful, obscene, voluptuous, dreamy, alluring, repelling, wet, dry and throbbing.” (Himmelblau 1988: 95)

Apabila kita melihat dekonstruksi arsitektur dimana ia menggunakan geometri sebagai ekspresi kebebasan bentuk dalam berarsitektur, bagaimana bila ia dihubungkan dengan prinsip Vitruvius dalam buku Ten Books on Architecture? Dapatkah saya mengatakan bahwa keindahan yang menurut Vitruvius adalah ketika elemen pembentuk berada dalam proporsi yang sesuai dengan prinsip simetri tidak berlaku dalam dekonstruksi arsitektur? Mungkinkah mengatakan sesuatu yang brutal, berada di luar konsep harmony, unity dan stability dapat kita katakan beauty?

“…and beauty, when the appearance of the work is pleasing and in good taste, and when its members are in due proportion according to correct principles of symmetry” (Vitruvius: Ten Books On Architecture. Book One. Chapter Three)

Secara pribadi, well, saya mengatakan bahwa karya – karya mereka sangat indah karena menggambarkan adanya kebebasan dari keterikatan aturan proporsi dan simetri. Karya – karya mereka menggambarkan lepasnya diri mereka dari doktrin ataupun pengalaman manusia di masa lalu. Pengalaman dari masa lalu, contohnya pendidikan yang diperoleh dari masa Taman Kanak – Kanak hingga SMU, kita hanya dikenalkan pada bentuk – bentuk geometri dasar; kubus, pyramid, balok, prisma, silinder, bola, dan lainnya. Pada saat itu, karakter diri kita sebagai pihak pasif yang menerima begitu saja, tanpa disadari membentuk pemikiran tersendiri bahwa itulah yang dimaksud geometri. Apakah memang geometri hanya sekedar itu? Padahal bila kita telaah kembali arti kata geometri, yaitu mengukur bumi (measuring the earth), geometri bukan hanya sekedar itu. Bumi adalah alam, dan alam, menurut saya, secara mendasar adalah suatu hal yang dinamis dan tidak statis atau diam, dalam arti penuh perubahan. Alam adalah suatu hal yang dapat saya katakan bebas, tidak terikat. Dari pemahaman ini, saya kemudian menyimpulkan bahwa geometri adalah suatu hal yang bebas dan penuh kedinamisan.

Kembali kepada topik, jika memang segala yang kita katakan indah adalah berdasar apa yang dikatakan Vitruvius, maka dapatkah saya katakan bahwa dekonstruksi arsitektur tidak memiliki nilai keindahan? Melihat karya mereka tidak berdasar pengetahuan atau pengalaman banyak orang yang cenderung melihat keharmonisan dalam bentuk ataupun berdasar feeling akan adanya proporsi. Mereka juga tidak melakukan perhitungan matematika terlebih dahulu untuk menemukan nilai phi. Keindahan menurut Vitruvius, tidakkah ia bersifat mengikat terhadap bentuk arsitektur yang ada? Apakah adanya golden section untuk menemukan proporsi yang baik sedikit ‘kejam’ sehingga apapun yang berada di luar hitungannya tidak dapat kita katakan indah? If that so, then what will we call this deconstructivist architecture? Bad? Ugly?

Reference:
1. Johnson and Wigley. Deconstructivist Architecture. The Museum of Modern Art, New York.

2. Vitruvius. The Ten Books on Architecture.

3:sheilanarita:.

posting: Sukma hadi,ST

hierarchy (dalam arsitektur)




Konsep dekonstruksi yang dilahirkan dari dulu memang sangat asyik untuk dibahas dan tak ada habisnya. Salah satu prinsip dalam konsep dekonstruksi adalah Pembalikan hirarki (hierarchy reversal).

Jika kita berbicara tentang hirarki tentunya berarti ada sesuatu yang lebih unggul dari pada yang lain sehingga memunculkan asosiasi adanya perbedaan posisi atau derajat antara sesuatu dengan sesuatu yang lain. Jika sesuatu itu dianggap penting, berarti kita meyakini dan menyadari kehadirannya. Sementara jika sesuatu tersebut dinggap tidak penting atau memiliki posisi atau derajat lebih rendah maka kehadirannya lebih diabaikan, bahkan cenderung dianggap tidak ada.

Artinya ketika kita membicarakan masalah hirarki maka secara tidak langsung menyebutkan makna atau ide tentang kehadiran dan ketidakhadiran (presence and absence). Salah satu keunikan yang dimiliki oleh konsep dekonstruksi Derrida adalah adanya oposisi yang harmonis. Maksud oposisi yang harmonis adalah konsep oposisi di dunia ini dapat kita sebutkan dengan jelas misalnya siang-malam, gelap-terang, luar-dalam, baik-salah, juga presence-absence. Presence (kehadiran) akan ada atau akan eksis ketika kita tahu keberadaan, dimana bisanya cara paling mudah bagi kita

untuk mengetahui keber-ada-annya adalah melalui keadirannya. Dan absence (ketidakhadiran) kita ketahui setelah kita mengerti akan kehadiran. Seperti kita tidak akan mengetahui terang jika sebelumnya kita tidak mengetahui apa itu gelap. Maka konsep hirarki menunjukkan adanya perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya secara hubungan vertikal, sehingga menciptakan ke-tidak sejajar-an.

Pembalikan hirarki (hierarchy reversal) berarti menjelasan mengenai tingkatan atau hubungan yang tadinya terbentuk secara vertikal, posisi yang satu berada dibawah atau diatas yang lain, yang menunjukkan sesuatu yang lebih baik/penting dari yang lain, sehingga memberikan kesan bahwa ada suatu keberadaan yang tidak peting, seolah dihilangkan atau ditindas menjadi tidak berlaku. Semua hal diangap sejajar dan sama. Bahkan sesuatu yang absence atau ada namun tidak hadir (ketidak hadiran pada tataran ini lebih diartikan sebagi kehadiran yang tertunda, bukan tiada) dimunculkan sehingga semua dianggap sejajar sehingga secara bersama-sama dapat menguak makna (kebenaran) yang lebih luas dan mendalam. Semua menjadi sama pentingnya.Banyak bidang yang telah mampu menunjukkan prinsip ini baik di bidang seni, bahasa, maupun arsitektur.


reference:
Kuliah pengantar Arsitektur 2 (2003)

Posting: Sukma hadi,ST

Proses Ber-arsitektur


Arsitektur tidak hanya melulu ruang dan hadir dalam keindahan bentuk, tetapi juga proses. Banyak arsitek ternama menghasilkan karya yang bisa dibilang terlihat biasa saja, tetapi ternyata diberikan apresiasi tinggi, karena prosesnya. Yang terpenting bukanlah B yang berasal dari A, tetapi area diantara A dan B. “Perjalanan” A menjadi B. Mengapa mereka terlihat dengan mudah menemukan metode tersebut? Karena mereka memiliki kepercayaan (belief).

Salah satunya adalah FOA (Foreign Office Architects). FOA percaya bahwa bentuk-bentuk yang dihasilkan memiliki suatu kedekatan atau kekerabatan dengan bentuk yang lain. Seperti sistem klasifikasi kekerabatan pada dunia biologi. Apa yang kemudian mereka sebut dengan PHYLOGENESIS. Kepercayaan tersebut yang menuntun mereka untuk meneliti dan menemukan apa yang mereka yakini.

Pada dasarnya FOA mencoba mencari parameter yang nantinya bisa mereka pakai dalam menentukan hubungan kekerabatan mereka. Meski dalam hal ini saya belum mengerti benar alasan mereka mengemukakan faciality, function, balance, continuity, dan lainnya. Meski banyak pertanyaan disekitar metode ini, seperti apakah bisa dipakai untuk semua bentuk bangunan dan semua arsitek, mengapa beranjak dari hubungan kekerabatan, dan pertanyaan lainnya, namun yang perlu digaris bawahi adalah proses penemuan metode tersebut, Sikap dan mental mereka.

Walaupun mereka menyadari betul metode yang mereka ciptakan akan menuai banyak protes, pertanyaan, dan sikap skeptis dari berbagai pihak, toh mereka tetap menjalaninya. Entah apakah mereka memang memiliki banyak waktu atau memang suatu tanggung jawab yang harus dilakukan, namun saya jadi berpikir bahwa bukankah seharusnya kita bersikap demikian. Mempertahankan dan membuktikan apa yang kita yakini, sehingga nantinya mahakarya tersebut tidak hanya sekedar berlabel “Iya bangunannya bagus.” tetapi juga “ wow ternyata …” ada sesuatu yang bisa dibawa siapa saja kedalam pengetahuan mereka. Hasrat seperti ini sulit ditemukan, tidak hanya di dalam diri saya, studio perkuliahan, hingga arsitek parktisi Indonesia saat ini.

Jadi, arsitektur tidak hanya berbicara hasil akhir, tetapi juga proses.


reference:
kuliah Pengantar Arsitektur 1 (2002)

posting: Sukma hadi,ST

Aku dan Dia

aku dan dia.......
Selalu mengerti yang tak terucap, paham yang tak di lakukan, dan bahkan melampaui akal sehat ku sekalipun. Aku tak tau apa yang aku rasakan sekarang ini adalah cinta sejati atau bukan. Aku hanya bisa menjadi ikhlas ketika aku sayang kepadanya. Aku bisa menjadi seseorang yang sangat bahagia apabila aku menyayanginya. Aku bisa menjadi orang yang sangat rindu apabila jauh darinya. Aku bisa menjadi orang yang paling bersedih apabila dia terpisah dariku.






Ketidaksempurnaan ku, hatiku dan jiwaku justru membuat ku semakin takut menghadapi kenyataan siapa sebenarnya Aku. Dan mungkin itulah yang menimbulkan keraguan dalam hatinya.........



Posting: Sukma hadi
Tambah Gambar